Afi Nihaya Faradisa, Suara dari Gunung Es Silent Majority Generasi Muda NKRI

Hari-hari ini dunia sosial media diramaikan oleh viral tulisan yang berjudul “WARISAN”. Meski judulnya sederhana, tulisan yang diunggah di wall facebook itu menghentak jagat maya. Kekagetan warganet dipicu oleh isi dari tulisan tersebut yang menghentak kesadaran mereka yang selama ini keasyikan menggunakan social media sekedar untuk hal-hal yang fun, selfish dan hedonis.

Kekagetan itu klimaks ketika melihat si penulis WARISAN ternyata seorang “anak kecil” berusia 18 tahun bernama Afi Nihaya Faradisa yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Publik dibuat heran alang kepalang bagaimana mungkin seorang anak kecil, dari kampung yang jauh di Banyuwangi sana, bisa mengekspresikan aspirasinya lewat tulisan yang “dahsyat”, dalam dan penuh makna seperti itu.

Pro dan kontra terhadap tulisan itupun bermunculan; ada yang mencibir, tetapi banyak pula yang menyanjung dan mengapresiasi. Bahkan ada pihak-pihak yang mengancam akan membunuh Afi karena menurut mereka isi tulisan tersebut bisa meracuni generasi muda. Afi bagi mereka  menyesatkan dan terlalu berani melawan. Mereka juga menuduh bahwa Afi sekedar pion yang dimanfaatkan oleh seorang mastermind untuk mencuri perhatian publik.

Di tengah kondisi dan suasana kebangsaan yang goyang akhir-akhir ini, WARISAN yang ditulis Afi memang seperti sebuah unjuk rasa kepada mereka, ormas maupun organisasi, yang dalam dua dekade belakangan terus menggerogoti keharmonisan masyarakat baik di bidang keagamaan maupun di bidang kebangsaan.

Ormas-ormas tersebut, sebut saja diantaranya HTI dan FPI, memang sangat gencar dan agresif mengindoktrinasi masyarakat melalui lembaga-lembaga sekolah, kampus, masjid dan majlis dengan ajaran-ajaran radikalisme. Dengan kedok berdakwah, sesungguhnya mereka sedang mengkampanyekan visi dan misi politik mereka.

Bila disimak isi setiap ceramahnya, mereka tidak membahas bagaimana beribadah yang baik tetapi selalu membahas ambisi politik mereka dan menggugat eksistensi NKRI, termasuk konstitusi, lambang negara serta bendera merah putih. Ormas-ormas ini sebenarnya sedang mendiseminasikan visi khilafahnya untuk menggantikan NKRI, yaitu berdirinya kekuasaan Negara Islam transnasional yang memasukkan Indonesia didalamnya dimana kepemimpinan dipegang oleh satu orang yang disebut khalifah.

Goyangnya pilar-pilar kebangsaan tersebut juga akibat dari sebuah kelalaian. Ustadz-ustadz yang berafiliasi ke NU, Muhammadiyah dan lembaga Islam lain yang sudah selesai dengan ideologi NKRI seperti sedang tertidur dari kegiatan dakwah. Sebagian besar dari mereka lebih sibuk dengan urusan partai; yang NU dengan PKBnya, Muhammadiyah dengan PANnya, dan partai-partai lain; meski tidak semuanya. Tetapi mereka kebanyakan merasa lebih asyik mengurusi dunia politik daripada meramaikan masjid dan surau.

Hal tersebut menyebabkan adanya situasi kekosongan. Masjid dan surau kosong dari ceramah dan kajian-kajian Islam yang disampaikan oleh ustadz-ustadz moderat. Setali tiga uang, kegiatan kerokhanian siswa di sekolah-sekolah dan kampus juga layu. Situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok atau organisasi seperti HTI, FPI dan sejenisnya untuk berkiprah.

Jamaah yang semula selalu mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz NU atau Muhammadiyah, kini menjadi akrab dengan ceramah-ceramahnya orang HTI, FPI, Salafy dan sejenisnya. Secara perlahan tapi pasti, maka terjadi apa yang disebut ideology switch; orang NU atau Muhammadiyah mulai mengikuti ajaran-ajaran yang dicekokkan oleh ustadz-ustadz tersebut. Anak-anak muda pun lebih menyukai ajaran yang disampaikan oleh ustadz-ustadz ini.

Akhirnya muncullah generasi yang berpaham radikal di tengah-tengah masyarakat, dan paham ini semakin hari semakin berkembang luas hingga para pengusungnya pun berani menggusur pengurus-pengurus masjid yang dikelola oleh NU, Muhammadiyah. Anak-anak tidak canggung lagi untuk menjauhi atau mengusir temannya hanya karena beda agama. Intoleransi terus mengemuka dalam pergaulan sosial sehari-hari.

Di tengah-tengah situasi genting toleransi dan “perang pengaruh dan dominasi ajaran” tersebut, muncullah Afi Nihaya Faradisa yang menyemburkan embun lewat tulisannya yang berjudul WARISAN.

Tulisan Afi merepresentasikan kegundahan mayoritas masyarakat terhadap situasi yang dihadapi bangsa ini. Mayoritas masyarakat yang disebut silent majority yang selama ini sebenarnya sangat ingin bersuara, atau berbuat sesuatu untuk melawan paham radikal yang terus berkembang, tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka takut akan konsekuensi atau menjadi sasaran balik yang justru membuat repot hidup mereka.

Afi muncul meneriakkan anti radikalisme bahkan menentang mereka yang berpikiran sempit yang mengancam keharmonisan hidup berbangsa dan beragama. Munculnya Afi dengan tulisan yang lantang, to the point dan bernas tentu saja membangunkan spirit keberanian masyarakat untuk tidak takut lagi bersuara. Apalagi, teknologi internet memfasilitasi setiap individu untuk bersuara, tinggal bagaimana memaksimalkannya.

Dengan kata lain, fenomena Afi membawa dampak positif pada generasi muda saatnya untuk berani bersuara. Sosial media tidak lagi hanya digunakan untuk hal-hal yang fun, pertemanan atau jualan produk tetapi juga untuk menyalurkan aspirasi dan merespon isu-isu terkini yang berkembang di masyarakat, terutama yang menyangkut isu kebangsaan, kebhinekaan dan toleransi antar umat beragama di NKRI. (mcDamas Punggury)



Dibaca 2449 x
Please Share:
Previous Pilihan Akses Menuju ke Lampung Bisa Melalui Udara, Darat, atau Laut
Next Kisah Nyata Bagaimana Paham Radikal Menyelusup di Tengah Keluarga dan Teman

You might also like

Isu

Mobil Karya Mahasiswa UPI Juarai Lomba World Championship di Inggris

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia dari Bandung, Jawa Barat, menorehkan sejarah dengan menjuarai Shell Eco Marathon Drivers World Championship di Inggris. Mengandalkan mobil bertenaga listrik Turangga Chetta EV3, tim Bumi Siliwangi

Lifestyle

Ternyata Semangka Sangat Baik untuk Menjaga Kesehatan Pembuluh Darah

Buah semangka bukan hanya enak dan segar saat dimakan. Pakar mengatakan buah semangka juga memiliki manfaat bagi kesehatan pembuluh darah. Penelope Perkins-Veazie, profesor di North Carolina State University, Raleigh, mengatakan

Inspirasi

Tips Sukses Berbisnis Bagi Pemula dari Boss Facebook, Mark Zuckerberg

Dia mengetahui salah satu atau bahkan dua hal tentang cara membangun bisnis yang sukses. Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengungkapkan sebuah kesuksesan dimulai dari pola pikir kita sendiri. Zuckerberg melanjutkan, kunci

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!