Alasan Filosofis Mengapa Ahok Mencabut Banding dan Mundur dari Jabatan Gubernur

Alasan Filosofis Mengapa Ahok Mencabut Banding dan Mundur dari Jabatan Gubernur

Di sebuah gereja di daerah Jakarta Utara, Ahok pernah dipersilahkan naik mimbar utk memberi sepatah dua patah kata. Tapi bukannya ngomong Alkitab, ia malah ngomong tentang Confusius. Saya tahu ia mengutip cerita itu dari mana, tapi tetap saja cerita itu menarik bagi saya. Ini ceritanya:

Ahok Memilih “3×8=23”

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”

Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”

Pembeli kain: “Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu
dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat.
Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,
dan memberi Yan Hui dua nasihat: “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui menjawab, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat.
Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang?

Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan.

Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata:
“Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Confucius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun
hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga.

Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.”

Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi justru kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya justru menyesal, karena sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Apa yang Ahok ceritakan mungkin bisa dibaca di banyak media. Tapi Ahok menjalani sungguh-sungguh nasehat Confusius. Merelakan diri demi kebaikan rakyat yang dia cintai.

(Hervin Danny Sienaka)



Dibaca 1683 x
Please Share:
Previous Afi Nihaya Faradisa, Sekali Menulis Status "Warisan", Dua Tiga Pihak Terbelalak
Next Mari Memahami Apa itu Sleeper Cell, Monster Terorist di Sekitar Kita

You might also like

Politik

Demi Jokowi, Sri Mulyani Rela Meninggalkan Gaji $409,950 di World Bank

Presiden Joko Widodo telah menunjuk Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai menteri keuangan di Kabinet Kerja. Mbak Ani -sapannya- meninggalkan posisinya yang prestisius di Bank Dunia untuk menggantikan Bambang P Brodjonegoro

Politik

Irman Gusman Menambah Deretan Figur Sopan dan Tampan yang Tertangkap KPK

Setelah sebelumnya ada Damayanti, anggota DPR cantik dan sopan; Muhammad Sanusi, anggota DPRD DKI yang juga tampan dan sopan; kini satu lagi, Irman Gusman, anggota/ketua DPD dengan penampilan kalem, sopan

Politik

Selama 71 tahun RI, Baru Sekali Ada Upacara Bendera di Dusun Yakyu, Papua

Dusun Yakyu adalah sebuah dusun yang terletak di di ujung selatan Papua, Distrik Sota, dekat Merauke. Wilayah ini terisolir dan dihuni oleh 85 jiwa. Untuk menunjukkan bahwa negara hadir di tiap

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!