Memahami Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA): Pengertian dan Sejarahnya

Memahami Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA): Pengertian dan Sejarahnya

Oleh KH Abdurrahman Navis, Lc. MHI

Di era modern ini ternyata masih ada orang yang belum memahami apa dan bagaimana ahlus sunnah wal jama’ah (ASWAJA). Mengapa memahami Aswaja penting?

Tak lain adalah agar kita memiliki pilihan dan panduan ajaran yang tepat dalam menjalankan ritual ibadah kita.

Secara mendetail, pembahasan mengenai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) memang sangat panjang. Namun secara singkat, berikut ini adalah penjelasan tentang pengertian dan sejarah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

I. Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA)

Secara definisi, Ahlussunnah wa Al jamaah terbagi dua, yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus.

  1. Definisi Aswaja secara umum adalah satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW dan thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah amaliyah fisik (fiqih) dan hakikat (tasawwuf dan akhlaq ).
  2. Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah golongan yang mempunyai i’tikad / keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah.

Jadi definisi Ahlussunnah waljamaah yaitu; “ Orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat (maa ana alaihi wa ashhabi), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf”.

II. Sejarah Aswaja

Istilah ahlussunnah waljamaah tidak dikenal di zaman Nabi Muhammad SAW maupun di masa pemerintahan al-khulafa’ al-rasyidin, bahkan tidak dikenal di zaman pemerintahan Bani Umayah (41 – 133 H. / 611 – 750 M.).

Istilah ini untuk pertama kalinya di pakai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far al-Manshur (137-159H./754-775M) dan khalifah Harun Al-Rasyid (170-194H/785-809M), keduanya dari dinasti Abbasiyah (750-1258).

Istilah ahlussunnah waljamaah semakin tampak ke permukaan pada zaman pemerintahan khalifah al-Ma’mun (198-218H/813-833M).

Pada zamannya, al-Ma’mun menjadikan Muktazilah (aliran yang mendasarkan ajaran Islam pada al-Qur’an dan akal) sebagai madzhab resmi negara, dan ia memaksa para pejabat dan tokoh-tokoh agama agar mengikuti faham ini, terutama yang berkaitan dengan kemakhlukan al-qur’an. untuk itu, ia melakukan mihnah (inquisition), yaitu ujian akidah terhadap para pejabat dan ulama. Materi pokok yang di ujikan adalah masalah al-quran.

Bagi muktazilah, al-quran adalah makhluk (diciptakan oleh Allah SWT), tidak qadim (ada sejak awal dari segala permulaan), sebab tidak ada yang qadim selain Allah SWT.

Orang yang berpendapat bahwa al-quran itu qadim berarti syirik dan syirik merupakan dosa besar yang tak terampuni. Untuk membebaskan manusia dari syirik, al-Ma’mun melakukan mihnah. Ada beberapa ulama yang terkena mihnah dari al-Ma’mun,diantaranya, Imam Ahmad Ibn Hanbal ( 164-241H).

Penggunaan istilah ahlussunnah waljamaah semakin popular setelah munculnya Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324H/873-935M) dan Abu Manshur Al-Maturidi (w. 944 M), yang melahirkan aliran “Al-Asy’aryah dan Al-Maturidyah” di bidang teologi. Sebagai ‘perlawanan’ terhadap aliran muktazilah yang menjadi aliran resmi pemerintah waktu itu. Teori Asy’ariyah lebih mendahulukan naql (teks qu’an hadits) daripada aql (penalaran rasional). Dengan demikian bila dikatakan ahlussunnah waljamaah pada waktu itu, maka yang dimaksudkan adalah penganut paham asy’ariyah atau al-Maturidyah dibidang teologi.

Dalam hubungan ini ahlussunnah waljamaah dibedakan dari Muktazilah, Qadariyah, Syiah, Khawarij, dan aliran-aliran lain.

Dari aliran ahlussunnah waljamaah atau disebut aliran sunni dibidang teologi kemudian juga berkembang dalam bidang lain yang menjadi ciri khas aliran ini, baik dibidang fiqh dan tasawuf.

Sehingga menjadi istilah, jika disebut akidah sunni (ahlussunnah waljamaah) yang dimaksud adalah pengikut Asy’aryah dan Maturidyah. Atau Fiqh Sunni, yaitu pengikut madzhab yang empat ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) yang menggunakan rujukan alqur’an, al-hadits, ijma’ dan qiyas. Atau bila disebut Tasawwuf Sunni, yang dimaksud adalah pengikut metode tasawuf Abu Qashim Abdul Karim al-Qusyairi, Imam Al-Hawi, Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. Yang memadukan antara syari’at, hakikat dan makrifaat.

III. Memahami Hadits Firqah

Ada beberapa riwayat hadits tentang firqah atau millah (golongan atau aliran) yang kemudian dijadikan landasan bagi firqah ahlussunnah waljamaah.

Sedikitnya ada 6 riwayat hadits tentang firqah/millah (aliran) yang semuanya sanadnya dapat dijadikan hujjah karena tidak ada yang dloif (lemah) tetapi hadits shahih dan hasan (baik). Dari hadits yang kesimpulannya menjelaskan bahwa umat Rasulullah akan menjadi 73 firqah, semua di neraka kecuali satu yang di surga. itulah yang disebut firqah yang selamat.

Dari beberpa riwayat itu ada yang secara tegas menyebutkan bahwa firqah yang selamat adalah ahlussunnah waljamaah.

Dalam sebuah riwayat, Abillah Bin ‘Amr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Akan datang kepada umatku sebagaimana yang terjadi kepada Bani Israil. Mereka meniru perilaku seseorang dengan sepadannya, walaupun diantara mereka ada yang menggauli ibunya terang-terangan niscaya akan ada diantara umatku yang melakukan seperti mereka. Sesungguhnya bani Israil berkelompok menjadi 72 golongan. Dan umatku akan berkelompok menjadi 73 golongan, semua di neraka kecuali satu. Sahabat bertanya; siapa mereka itu Rasulullah? Rasulullah menjawab: “maa ana alaihi wa ashhabi”, Apa yang ada padaku dan sahabat-sahabatku ( HR. At-Tirmidzi, Al-Ajiri, Al-lalkai. Hadits hasan )

Pada riwayat lain, dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah SAW bersabda “ Sesungguhnya bani Israil akan berkelompok menjadi 71 golongan dan sesungguhnya umatku akan berkelompok menjadi 72 golongan, semua di neraka kecuali 1 yaitu al-jamaah”. (HR.Ibn Majah, Ahmad, al-lakai dan lain. Hadits sanad baik)

Dari pengertian hadits diatas dapat dipahami dan disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penganut suatu agama sejak sebelum Nabi Muhammad (Bani Israil) sudah banyak yang ‘menyimpang’ dari ajaran aslinya, sehingga terjadi banyak interpretasi yang kemudian terakumulasi menjadi firqah-firqah.
  2. Umat Nabi Muhammad juga akan menjadi beberpa firqah.namun berapa jumlahnya? Bilangan 73 apakah sebagai angka pasti atau menunjukkan banyak, sebagaimana kebiasaan budaya arab waktu itu?.
  3. Bermacam-macam firqah itu masih diakui oleh Nabi Muhammad SAW sebagai umatnya, berarti apapun nama firqah mereka dan apaun produk pemikiran dan pendapat mereka asal masih mengakui Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Nabi dan ka’bah sebagai kiblatnya tetap diakui muslim. Tidak boleh di cap sebagai kafir. “lahu ma lana wa alaihi ma alainaa”.
  4. Pengertian semua di nereka kecuali satu, yaitu mereka yang tidak persis sesuai dengan sunnah Nabi dan para sahabatnya akan masuk neraka dahulu, tapi tidak kekal didalamnya, yang nantinya akan diangkat ke surga karena masih ada iman dalam hatinya mekipun itu sekecil biji. Sedangkan yang satu akan langsung ke surga tanpa harus mampir di neraka dahulu.
  5. Kelompok yang selamat adalah mereka yang mengikuti sesuai apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

sumber: aswajanucenterjatim.com



Dibaca 8375 x
Please Share:
Previous Demi Rebut Momentum, Golkar Tancap Gas Duetkan Jokowi-Sri Mulyani untuk 2019
Next Kurangnya Pasokan Listrik Menjadi Penghambat Pengembangan Pariwisata Krui

You might also like

Virus Santri

Saat Gadis NU, Kalis Mardiasih, Mengkonter Kedangkalan Pikir Felix Siauw

Gadis yang dikenal sebagai penulis muda asal Blora dan lahir serta besar di tengah-tengah lingkungan berbasis Nahdlatul Ulama (NU), Kalis Mardiasih, secara gamblang dan lantang menjawab caption postingan-postingan Instagram dari

Virus Santri

Jokowi: Indonesia Harus Menjadi Sumber Inspirasi dan Pemikiran Islam Dunia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa Islam di Indonesia sudah seperti resep obat yang paten yakni Islam washatiyah, Islam yang moderat. Sedangkan, Islam di beberapa negara lain masih mencari Islam

Virus Santri

Saat Iman dan Akal Sehat Dimanipulasi untuk Menyebar Kebencian

Menolak reklamasi Teluk Jakarta? Saya menolak. Alasan saya, soal lingkungan. Bagaimanapun juga, pengubahan lingkungan secara radikal akan mengubah ekosistem. Meski ada perhitungan begini dan begitu, tetap saja ada hal yang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!